Matematika memang menakutkan! Seolah berjalan di lorong gelap, tidak tahu jalan keluar!
Mungkin itulah gambaran yang tepat apa yang saya rasakan dulu, awal-awal mengenyam pendidikan di SD dan SMP. Sampai saat saya diberi tugas untuk mengikuti sebuah olimpiade matematika salah satu kegiatan memperingati HUT SMA favorite dekat rumah. Entah apa penilaian guru SMP waktu itu hingga memilih saya, entah apa pula yang ada dipikiran hingga dengan PD nya berangkat melaksanakan tugas, padahal saya merasa lemah pada mata pelajaran satu ini.
Saya masih ingat peraturan olimpiade waktu itu. Jika betul skor 2, jika salah skor -1 dan apabila tidak dijawab skor 0. Soal berjumlah 50 butir pilihan ganda. Juga masih terbayang jelas bagaimana panik dan gundah tatkala soal-soal tersebut jauh dari jangkauan otak saya, hanya beberapa soal yang saya bisa jawab. Bodohnya lagi, meskipun tidak yakin dengan jawaban, tidak ada soal yang tidak saya jawab. Lalu, masih dengan percaya diri, lembar jawab saya kumpulkan.
Tidak sampai disitu, saya masih percaya diri menunggu hasil diumumkan. Setelah lembaran hasil ditempel di papan pengumuman, disitulah saya menyesal telah berangkat melaksanakan tugas dari guru. Bagaimana tidak? saya mendapat skor 18 dan berada di urutan kedua dari bawah 😁😅😢Muncul rasa marah, entah pada diri saya sendiri atau pada pemberi tugas, rasa kecewa, dan rasa malu hingga membawa rasa benci pada benda yang bernama "matematika".
Rasa-rasa nano nano di atas, tidak hilang cukup sehari. Setiap ingat malu dan benci! Akan tetapi semakin rasa malu dan benci muncul, jauh di hati ada rasa "survive". Rasa ingin menaklukkan matematika, ingin menyelami lebih dalam, sehingga makhluk"matematika" ini tidak akan lagi membuat malu kedepan 👅😁😂
Dari situlah, dorongan menyelami matematika dan seninya semakin besar. Semakin lama semakin menemukan bagaimana asyik dan memabukkannya matematika. Buku dan internet menjadi sumber utama belajar sendiri, meski tak jarang pula mendapat ilmu dari para master matematika. Tugas di tempat kerja sebagai pembina siswa untuk persiapan olimpiade juga banyak memberi dorongan untuk menggali lebih dalam.
Sayangnya, saya mudah lupa! Saya perlu ikat sekelumit ilmu matematika yang ada di otak pelupa ini dengan catatan. Blog ini saya pilih untuk itu, sekaligus dengan harapan dapat bermanfaat bagi orang lain. 😚😊